Posted : 02 November 2010 , Program : Berita Utama
Desa terparah Di Daerah Istimewa yogyakarta yang menjadi korban letusan Gunung Merapi terdiri dari :

A. Desa Kepuharjo, Cangkringan, Sleman

Tempat pengungsian untuk 8 Dusun :
Kaliadem, Jambu, Petung, Kopeng, Batur, Pagar Jurang, Kepuh, Manggung
Jumlah pengungsi yang diakibatkan oleh letusan gunung merapi adalah 2.221 orang dan dusun yang terparah adalah dusun Kaliadem. Korban luka-luka ada 10 orang. Kondisi rumah korban tidak ada yang roboh tetapi banyak terkena abu vulkanik.
Bantuan yang dibutuhkan adalah :
Sembako (Beras, minyak goreng, minyak tanah, telur, sayur-mayur)
Peralatan Mandi
Susu bayi dan balita
Makanan Balita
Obat-obatan (Minyak kayu putih, perban, alcohol, betadin, tetes mata)
Kasur untuk lansia dan balita
Selimut
Detergen, tali jemuran
Tisu Gulung
Perlengkapan Balita (Pampers, selimut bayi, bedak bayi)
Pembalut
Emergency Lamp
Perlengkapan Dapur (Kompor, pisau, panci, dandang)
Makanan pendamping asi
Gula dan teh
Pakaian pantas pakai

» Selengkapnya

 
Posted : 02 November 2010 , Program : Berita Utama
Awan panas akibat erupsi Gunung Merapi pada tanggal 26 Oktober 2010 yang terjadi pada sore hari tidak saja mengakibatkan korban 38 jiwa meninggal dunia dan ratusan penduduk harus mengungsi, melainkan juga rumah-rumah penduduk banyak yang hancur, hewan ternak banyak yang mati, hutan dan pepohonan pun luluh lantah. Pada saat ini ancaman penyakit mata dan ispa pun menyerang para pengungsi. Yayasan Griya Mandiri pada tanggal 27 Oktober 2010 segera melakukan assessment untuk mendata kebutuhan-kebutuhan yang sangat diperlukan oleh para pengungsi sekaligus juga mendistribusikan bantuan untuk kebutuhan yang bersifat tanggap darurat, seperti bahan makanan (sembako), susu dan perlengkapan bayi dan lansia, minyak goreng, selimut, pampers, pembalut, air mineral. Bantuan di distribusikan langsung ke daerah yang terkena bencana awan panas, yaitu di Desa Kepuhrejo dan Desa Umbulharjo Kecamatan Cangkringan.

» Selengkapnya

 
Posted : 02 Maret 2009 , Program : Berita Utama
Sebagai wujud dari kesepakatan bersama antara Yayasan Griya Mandiri (YGM), Habitat for Humanity Indonesia Affiliate Yogyakarta (HFHI), dan BKM Sejahtera untuk melaksanakan program sertifikasi tanah bagi masyarakat berpenghasilan rendah di Desa Srimulyo, maka pada hari Kamis tanggal 19 Februari 2009 bertempat di Kantor Lurah Desa Srimulyo, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul dilakukan penandatanganan akad kredit pencairan dana tahap I bagi 5 KSM atau Home Partner yang telah diajukan oleh pihak BKM Sejahtera. Kelima kelompok tersebut tersebar dalam 5 wilayah pedusunan yaitu KSM Bintaran Kulon I dan II, KSM Onggopatran, KSM Cikal, dan KSM Kradenan.

Penandatanganan akad kredit pencairan dana itu dilakukan oleh Wijang Wijanarko selaku Ketua Badan Pengelola Dana program yang mewakili YGM dan Feri Nur Sadono selaku Koordinator BKM Sejahtera. Turtu dalam penandatangan tersebut adalah Y. Sigit Yusgiantara dari HFHI yang mewakili pihak pendonor program serta Abdul Kahar yang menjabat sebagai Sekretaris Desa Srimulyo mewakili pihak pemerintahan desa. Keduanya bertindak sebagai saksi I dan II dalam akad penandatangan pencairan dana program tahap I.

Dalam kesempatan tersebut jumlah dana pinjaman yang dilokasikan untuk pembiayaan pengadaan sertifikasi tanah bagi masyarakat di Desa Srimulyo melalui program larasita dari pihak BPN Kabupaten Bantul sebesar Rp. 138,000,000,- (seratus tiga puluh delapan juta rupiah) dengan masing-masing besaran dana sebesar Rp. 1.500,000,- (satu juta lima ratus ribu rupiah) dengan jumlah penerima sebanyak 87 KK yang berasal dari 5 lokasi wilayah pedusunan.

Komposisi penerima dana pinjaman dari Program Sertifikasi Tanah tercantum dalam tabel berikut :

No. Nama KSM Alamat Kepala keluarga Nama Pengurus
Dusun Desa Kecamatan L P Jumlah Ketua Sekretaris Bendahara
1 Kradenan Kradenan Srimulyo Piyungan 14 1 15 Winarto Suroto Ngatijan
2 Cikal Cikal Srimulyo Piyungan 12 5 17 Ngadiman Dwiatun P Ngadiyono
3 Onggopatran Onggopatran Srimulyo Piyungan 12 4 16 Suhar, S.Pd Heni Nur W Sriyanti
4 Bintaran Kulon I Bintaran Kulon Srimulyo Piyungan 10 10 20 Sukarman Priyo Siswanto Basuki
5 Bintaran Kulon II Bintaran Kulon Srimulyo Piyungan 16 3 19 Supardi,S.Pd Suharto Sarjono
64 23 87

Dalam pengantar sebelum dilakukan penandatanganan akad kredit pencairan dana, Wijang Wijanarko menekankan bahwa kerjasama antara tiga pihak berkaitan dengan pelaksanaan program sertifikasi tanah ini nantinya akan ditingkatkan menjadi program peningkatan kualitas hunian. Yang penting dalam pelaksanaannya bukan semata-mata terletak pada perputaran dana pinjaman, melainkan bagimana program ini dapat memberikan perubahan yang berarti pada masyarakat. Salah satu indikator yang dipakai untuk mengukur keberhasilannya adalah peningkatan kesejahteraan.

Wujud dari kesepakatan pendanaan program sertifikasi tanah ini merupakan langkah awal dari proses panjang yang coba dibangun oleh pengurus Badan Keswadayaan Masyarakat atau BKM Sejahtera dengan YGM sebagai pengejawantahan semangat dan kepedulian pada pola pemberdayaan dan pengembangan serta pendampingan masyarakat yang menjadi intisarinya.

Sementara itu Feri Nursadono dalam sambutannya menyampaikan penghargaan yang sebesar-besarnya atas kepercayaan dan kemitraan yang dibangun dengan pihak BKM, sehingga secara tidak langsung BKM memperoleh penguatan dalam pengorganisasian secara kelembagaan serta implementasi program-program dari BKM yang didukung sepenuhnya oleh YGM dan HFHI. Diharapkan program ini akan berhasil dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Desa Srimulyo. Secara khusus diharapkan akan segera ada pengakuan secara legal formal hak atas tanah mereka melalui penerbitan sertifikasi tanah.

Senada dengan Feri Nur Sadono, Sekretaris Desa Srimulyo mewakili Lurah setempat, yaitu Abdul Kahar menekankan program sertifikasi tanah agar dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan musyawarah bersama. Pihak pemerintahan desa akan mendukung dan siap berkejasama dengan pihak BKM Sejahtera untuk memperlancar pelaksanaan program sertifikasi tanah bagi warga masyarakat ini.

Penandatangan akad kredit ini merupakan bagian dari proses yang cukup panjang. Sebab sebelum dilakukan penandatanganan, masyarakat (Kelompok Swadaya Masyarakat atau KSM), harus mengikuti pelatihan tentang administrasi pembukuan dan konstruksi yang disajikan secara bersama-sama antara pihak YGM dan HFHI. Kegiatan pelatihan ini dilakukan pada Hari Selasa, 17 Februari 2009 di balai Desa Srimulyo yang diikuti oleh seluruh pemohon program sertifikasi tanah.

» Selengkapnya

 
Posted : 02 Maret 2009 , Program : CO-BILD
Program Co-BILD, yang menerapkan paradigma baru dalam pembangunan perumahan di Indonesia, dari konsep yang menempatkan pemerintah sebagai provider berubah ke konsep pendampingan pada masyarakat agar mampu membangun rumah secara mandiri (enabler). Dengan adanya konsep pendampingan tersebut, maka upaya yang harus dilakukan adalah mendorong masyarakat menjadi provider bagi pembangunan perumahannya sendiri. Upaya tersebut harus dilakukan dengan berbagai tindakan dan strategi yang mampu menciptakan berbagai kondisi untuk mendorong tumbuh dan berkembangnya berbagai inisiatif dan prakarsa pembangunan perumahan dan permukiman secara swadaya oleh masyarakat.
Hal-hal di atas membawa pada kesimpulan bahwa Program Co-BILD bukanlah kegiatan hanya memberikan pelayanan keuangan dalam bentuk pinjaman bergulir, tetapi juga memberikan pendampingan kepada masyarakat. Adapun pilihan strategis yang perlu diambil oleh para pengelola program adalah melembagakan prakarsa pembangunan dan permukiman oleh warga masyarakat. Upaya-upayanya antara lain:
- Mendorong prakarsa mandiri masyarakat yang terbimbing, dengan partisipasi penuh dan bertanggung jawab, sehingga terarah dan sesuai dengan rencana;
- Memfasilitasi berbagai upaya dan prakarsa masyarakat baik secara perorangan maupun kelompok dalam pembangunan dan perbaikan perumahan/permukiman mereka;
- Meningkatkan kemampuan kelembagaan masyarakat;
- Membangun berbagai jaringan sumberdaya strategis yang dapat diakses oleh masyarakat berpenghasilan rendah untuk membangun perumahan dan permukimannya secara swadaya.
Selama ini indikator keberhasilan program baru ditetapkan berdasarkan tingkat non-performing loan (NPL), yaitu prosentase yang menunjukkan nilai tunggakan pinjaman terhadap total jumlah pinjaman. Jadi kesuksesan program masih diukur dari naik turunnya pengembalian pinjaman saja. Mengingat peranan Program Co-BILD yang sebenarnya cukup besar tersebut, maka perlu mulai ditetapkan indikator keberhasilannya yang di antaranya mencakup butir-butir di bawah ini:
1. Terjadinya perubahan perilaku sosial melalui suatu transformasi peningkatan kapasitas dan proses pembelajaran di masyarakat;
2. Terjadinya peningkatan kesejahteraan di kelompok masyarakat sasaran
3. Terjadinya suatu peningkatan kualitas lingkungan permukiman, terutama pada kawasan permukiman dimana para kelompok peminjam (Kelompok Swadaya Masyarakat atau KSM) bermukim.


» Selengkapnya

 
Posted : 02 Maret 2009 , Program : CO-BILD
Bertempat di Kantor Yayasan Griya Mandiri (YGM) pada Jumat, 13 Februari 2009, Program CoBILD kembali mencairkan dana pinjaman Tahap 59 untuk perbaikan perumahan kepada 4 Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM). Mereka adalah KSM Kompak, Kalipetir, Margosari, Pengasih, Kulon Progo; KSM Sido Bangun I dan Sido Bangun II, Temben, Ngentakrejo, Lendah, Kulon Progo, KSM Semasa II, Dongkelan-Kauman, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul.

Dalam penandatanganan akad kredit pencairan dana tersebut dihadiri oleh Ir. Noor Sasongko, MT dan Ilham Morgana, S.IP selaku wakil Dewan Perumahan Permukiman (DPP). Mewakili Badan Pengelola Program CoBILD (BPD) adalah Wijang Wijanarko, ST; Endah Purwanti, SE; Raditya Kurniawan, A.Md; Reny Melyasary, SP; dan Shofiyah Wilda, ST mewakili). Sedangkan masing-masing KSM diwakili oleh 3 orang pengurus. Pada hari itu juga dilakukan serah terima pendistribusian dana kepada seluruh anggota KSM yang dilakukan oleh pengurus KSM dengan disaksikan oleh Fasilitator Tim Penyiapan dari pihak YGM di wilayah masing-masing KSM berada.

Sebelum dilakukan pencairan dana, YGM mengadakan Pelatihan Sistem Administrasi Pembukuan dan Bangunan Lebih Aman Gempa (BLAG) pada Kamis, 12 Februari 2009 pada pengurus KSM. Kegiatan pelatihan ini merupakan paket satu kesatuan sebagai bagian proses dari persyaratan kelompok masyarakat untuk mengakses dana program CoBILD.

Total dana yang digulirkan sebesar Rp. 139,000,000,- (Seratus Tiga Puluh Sembilan Juta Rupiah). Adapun keseluruhan jumlah anggota masyarakat penerima dana untuk perbaikan perumahan tersebut adalah 53 orang dengan komposisi secara gender adalah 46 laki-laki dan 7 perempuan. Dengan demikian secara kuantitatif jumlah KSM yang telah mengakses dana Program CoBILD dari tahun 2001 hingga Bulan Februari 2009 sebanyak 204 KSM yang tersebar di seluruh Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

» Selengkapnya

 
 

Arsip Berita 

 
   
 
  Berisi tentang berita yang berkaitan dengan kelembagaan maupun bersifat umum
   
 
  Bersama dengan komponen masyarakat lain, lokal, nasional dan internasional, YGM juga terlibat dalam kegiatan kemanusiaan untuk membantu korban gempa bumi yang meluluh-lantakkan sebagian wilayah Propinsi DI Yogyakarta dan Jawa Tengah
   
 
  YGM menyelenggarakan berbagai pelatihan melalui kerja sama dengan lembaga lain. Pelatihan dilaksanakan atas inisiatif YGM maupun permintaan lembaga lain sesuai dengan kebutuhan.
   
 
  Co-BILD atau Community-based Initiatives for Housing and Local Development (Co-BILD) atau Proyek Penerapan Pembangunan Perumahan dan Daerah berbasis pada Prakarsa Komunitas Masyarakat (P3DPK)
   
 
  YGM bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Propinsi DIY melaksanakan program Dapur Sehat

Total Programs = 5
1